Minggu, 02 September 2012

MENIKAH MUDA TAK SELALU BERAKHIR DENGAN AIR MATA

Menikah muda di zaman sekarang ini kerap diidentikkan dengan kegagalan. Padahal tak semua pernikahan di usia muda berakhir dengan air mata. Wanita yang menikah di usia 19 tahun ini misalnya, hidup bahagia bersama suami dan tiga anaknya.


Putri, itulah nama wanita tersebut. Dia menikah saat baru lulus kuliah dan usianya baru 19 tahun. Wanita berkulit putih ini dinikahi Dio, pria yang sudah memacarinya selama 2,5 tahun.

"Gue mau nikah karena sudah yakin sama pasangan. Pasangan sudah settle dan ada dukungan juga dari orangtua," tuturnya. Ketika menikah, suami Putri sudah bekerja di sebuah stasiun televisi. "Dia juga dari keluarga baik-baik, salatnya rajin, pekerja keras dan gue bisa bayangin gimana masa depan gue sama dia," tambah Putri.

Persiapan pernikahan Putri dan Dio terbilang cepat. Dio melamarnya tidak lama setelah ia lulus kuliah. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah lamaran, pernikahan digelar pada 18 September 2004. Saat itu usia Dio, 26 tahun.

Sebulan setelah menikah, Putri dinyatakan hamil. Hamil di usia muda tidak menjadi kendala berarti untuknya. Yang justru jadi kesulitannya ketika anak pertamanya sudah lahir. Putri merasa saat itu dirinya tidak cukup mencari informasi bagaimana membesarkan anak.

"Akhirnya gue cuek saja, kasih makanan instant," kata Putri yang setelah anak pertama lahir, tidak lama kemudian dia hamil anak kedua. Kondisi itulah yang membuatnya cukup kerepotan. "Untungnya banyak yang bantu, kalau dulu sendirian, nggak sanggup," ujar wanita yang enam bulan lalu melahirkan anak ketiganya itu.

Selama menjalani pernikahannya dengan Dio, Putri tak menemui kendala berarti. Usianya yang saat itu baru 19 tahun juga tak mendatangkan masalah.

Hanya saja, menurut Putri, dia sempat merasakan ketidaknyamanan di awal-awal pernikahannya. "Mungkin dulu gue nggak terlalu siap punya anak, masih pengin ini-itu. Teman-teman masih pada ngumpul, ke kampus, mall, gue ngurusin anak," tuturnya.

Putri juga mengaku sangat bosan dengan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Sempat terpikir untuk bekerja, namun setelah berpikir siapa yang akan menjaga anak-anak, niat itu diurungkannya.

Untuk mengatasi segala perasaan tidak enaknya itu Putri memilih bicara dengan suami dan ibunya. Kalau kebosanan melanda dia juga akan mencari aktivitas seperti berselancar di dunia maya dan menulis blog.

Permasalahan lainnya yang sempat ia rasakan di awal pernikahan adalah kondisi keuangan rumah tangga yang boros. Sebagai istri, saat itu dia belum bisa mengatur keuangan dengan baik. Namun kini seiring perjalanan waktu dan pengalaman serta banyak belajar, dirinya sudah mulai mahir mengurus keuangan rumah tangga dan anak.

Apa yang dilakukan Putri di atas sesuai dengan saran dari psikolog Anna Surti Ariani,S.Psi.M.Si. Menurutnya kalau memang seseorang memutuskan menikah muda, harus memahami dan menerima risikonya.

"Hadapilah semua risiko tersebut dengan matang dan dewasa. Apapun yang terjadi bertahanlah, apalagi kalau sudah punya anak," kata Anna saat berbincang dengan wolipop Jumat (29/6/2012).

Langkah Putri bicara dengan suami dan ibunya juga sama dengan pendapat Anna. Kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, ketika menghadapi masalah, orang yang menikah muda perlu mencari bantuan dari orang lain.

"Cari bala bantuan untuk atasi masalah. Jangan mudah percaya, jangan percaya satu atau dua orang," sarannya.

sumber