Jumat, 26 Oktober 2012

4 Gaya Bang Ali Sadikin yang mirip Bang Jokowi

(jelajahunik.us) Aksi Gubernur DKI Jakarta Jokowi mengingatkan pada gubernur legendaris Ali Sadikin. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Andi Mapetahang Fatwa menilai gaya kepemimpinan Jokowi yang merakyat dan mengedepankan komunikasi cocok dengan warga DKI. Gaya Jokowi dinilai hampir sama dengan sikap mantan gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

"Saya percaya karena dia sudah lakukan di Solo, bukan saat kampanye saja masuk gang, saat menjabat tetap masuk gang, itu juga dilakukan Ali Sadikin," kata AM Fatwa di komplek parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (21/9).

Menurut AM Fatwa, memang teori penyelesaian masalah dengan mengedepankan pendekatan masyarakat, memang selalu efektif. Terlebih masalah SARA. Ketika Jokowi menjabat sebagai wali kota Solo, dia bersama beberapa tim ahli tidak segan berjalan di gang-gang sempit hanya untuk mendengarkan keluhan warganya. Berikut gaya Ali Sadikin yang juga dimiliki Jokowi

1. Lebih suka bertemu orang dibanding bekerja di balik meja

Salah satu kesamaan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan Gubernur DKI Ali Sadikin adalah sama-sama tak betah duduk manis di dalam kantor. Keduanya lebih suka terjun langsung ke lapangan dan menampung keluhan langsung dari warga.

Baru satu pekan memimpin DKI, Jokowi langsung beraksi. Dengan sejumlah staf yang menemaninya, mantan wali kota Solo itu melakukan sidak ke sejumlah kantor pelayanan publik, seperti kantor kecamatan, kelurahan dan puskesmas.

Di lokasi itu Jokowi memeriksa dan memantau kinerja anak buahnya. Tak hanya itu, Jokowi juga mengunjungi sejumlah pasar.

Jokowi menampung semua keluhan para pedagang dan berjanji akan merenovasi pasar-pasar yang ada di bawah tanggung jawab Pemprov DKI seperti Pasar Bedeng dan Pasar Gembrong di Jakarta Pusat.

Hal ini tak jauh berbeda dengan Ali Sadikin. Baru hari kedua menjabat sebagai gubernur DKI, pria yang akrab disapa Bang Ali itu langsung melakukan gebrakan.

Saat itu Bang Ali ingin mengetahui kondisi nyata transportasi yang ada di Jakarta. Dia pun langsung terjun ke lapangan dan menumpang bus umum keliling kota.

Bang Ali kemudian miris melihat buruknya pelayanan bus kota di DKI yang dinilainya tak manusiawi. Sebab, meski bus sudah penuh, bus tetap memuat penumpang yang berakibat pada sesaknya kondisi.

"Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu," ujar Bang Ali dalam memoar Ali Sadikin karangan Ramadhan KH.

Bang Ali kemudian mengusahakan agar Jakarta punya bus kota yang layak. Bang Ali juga yang membangun terminal bus di Lapangan Banteng, Blok M, Cililitan, Pulo Gadung dan Grogol. Bang Ali pula yang membangun shelter untuk menunggu bus kota.

2. Tegas dan tidak mau kompromi

Salah satu alasan Presiden mengangkat Ali Sadikin menjadi gubernur DKI karena pria kelahiran Sumedang itu memiliki sifat keras kepala, tegas, dan berani. Hal itu terbukti saat Bang Ali memimpin Jakarta.

Saat memimpin Jakarta, Ali Sadikin sempat membuat gebrakan dengan mengadakan lotto/hwa-hwe (semacam judi) yang dilegalkan, menaikkan pajak balik nama kendaraan bermotor, memungut pajak judi untuk kaum Tionghoa, dan melokalisasikan para PSK di Kramat Tunggak.

Akibat gebrakan tersebut Bang Ali mendapat sorotan publik. Dia dijuluki Gubernur Maksiat dan istrinya dijuluki Madame Hwa-Hwe. Namun Bang Ali tak mau kompromi. Dia tetap menjalankan kebijakannya itu.

Sebab, hasil dari itu semua akan digunakannya untuk memperbaiki kondisi Jakarta, yakni membangun infrastruktur jalan dan sebagainya yang berdampak pada ekonomi warga Jakarta.

Sosok keras kepala juga dimiliki oleh Jokowi. Saat masih menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi pernah perang terbuka dengan atasannya Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Saat itu Jokowi menolak pembangunan mal di lokasi bekas PT Sari Petojo, Purwosari, Laweyan, Solo.

Hal itu lantas memancing reaksi dari Bibit. Orang nomor satu di Jateng itu bahkan saat itu menyebut Jokowi bodoh. Namun, Jokowi tak mau menghiraukannya, ia tetap menolak pembangunan mal itu.

Jokowi lebih memiliki mempertahankan bekas pabrik es itu sebagai peninggalan budaya ketimbang membangun mal. Hal ini langsung memicu reaksi dari warga Solo.

Mereka melakukan unjuk rasa untuk mendukung Jokowi dan menolak kehadiran Bibit Waluyo di Kota Solo.

3. Disiplin tingkat tinggi

Pekan pertama sebagai gubernur DKI Jakarta dilalui Jokowi dengan pagi-pagi sekali selalu di kantor. Dia mengawali hari dengan rajin sidak ke berbagai ujung tombak pelayanan Pemprov DKI. Jokowi mendapati beberapa lurah dan camat tidak ada di tempatnya saat sidak. Loket pelayanan juga masih tertutup. Jokowi pun mengumpulkan lurah dan camat di Balai Kota dan memberi peringatan agar disiplin.

Jokowi sempat merasakan suasana pertemuan dengan para camat dan lurah di balai kota berjalan tegang. Agar mencairkan situasi, Jokowi meminta agar mereka tersenyum.

"Saya minta senyum semuanya ya, jangan tegang, saya enggak akan marah kok," kata Jokowi sambil tersenyum, Kamis (25/10). Mendengar itu para peserta rapat juga tersenyum.

Setelah suasana cair, Jokowi kembali melanjutkan pemaparannya soal peningkatan kinerja. Dia juga meminta agar kejadian beberapa waktu lalu di Kelurahan dan Kecamatan Senen tak terlalu dipikirkan.

"Yang kemarin sudahlah, saya tak ada urus. Ke depan saya minta punya visi yang sama, yang saya kunjungi jangan takut, tidak bisa tidur, saya ngecek karena banyak kelurahan, kecamatan, banyak ruangan tertutup," katanya.

Jokowi juga menekankan agar dari sekarang dibangun persepsi melayani masyarakat. "Saya minta semua punya visi yang sama, punya budaya yang sama, budaya kerja yang sama yaitu budaya pelayanan kepada masyarakat," tandasnya.

Ali Sadikin pun tidak kalah dalam memberi contoh tentang disiplin. Dia mengajak masyarakat juga ikut patuh dan taat dengan aturan. Pernah pada suatu waktu Ali Sadikin menampar seorang sopir anggota tentara yang tidak disiplin berkendara. Bang Ali, sapaan akrabnya, pernah menampar seorang sopir truk yang membawa truk seenaknya di jalur cepat Jalan By Pass (sekarang Jl Ahmad Yani), Jakarta Utara. Gerah dengan ulah sopir itu, Bang Ali yang dalam perjalanan menuju upacara di Menteng Wadas, memerintahkan sopirnya untuk mengejar truk tersebut.

Setelah sempat menolak berhenti, sopir tersebut akhirnya meminggirkan truknya di pinggir jalan. Dengan setengah berteriak, Bang Ali menyuruh sopir truk itu turun. "Truk siapa ini?" tanya Bang Ali. "Truk ALRI Pak," jawab sang sopir.

Setelah bertanya-tanya sebentar, Bang Ali langsung menampar sang sopir itu. Telapak tangan Bang Ali tepat mendarat di pipi anggota militer itu.

"Kalau bawa muatan berat, apa boleh jalan di tengah?" tanya Bang Ali. Sebelum sopir menjawab, satu tamparan lagi mengenai pipinya. Plak!

"Jadi ABRI jangan sembarangan!" kata Bang Ali lagi, sebelum naik ke kendaraannya.

4. Rajin sidak

Jokowi sidak bukan cerita baru. Kantor lurah, kantor camat, pasar dan Puskesmas didatangi oleh Jokowi. Pernah pula dia mendapati lurah maupun camat tidak ada di tempat saat sidak. Banyak cerita lucu tentang camat dan lurah yang berpacu agar bisa ketemu Jokowi yang lagi sidak. Camat Cempaka Putih Asril Rizal tidak di tempat saat Joko Widodo melakukan inspeksi mendadak ke kantornya Selasa kemarin. Namun, Asril membantah dia bolos. Menurutnya, saat itu dia sedang dalam perjalanan menghadiri undangan Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah menerima kedatangan Ketua PKK Iriana Jokowi yang juga istri Jokowi.

Asril menceritakan, sebenarnya dia sudah tiba di kantor sejak pukul 07.30 WIB. Karena harus menghadiri undangan pukul 09.00 WIB, Asril berangkat dari kantornya sekitar pukul 07.50 WIB dengan mobil dinas.

"Tujuannya berangkat lebih cepat biar nggak telat. Karena pasti jalanan macet," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (24/10).

Dalam perjalanan, Asril menerima telepon dari lurah Cempaka Putih Timur. Katanya, gubernur akan melakukan sidak. Saat itu posisi Asril sudah sampai Atrium Senen.

"Langsung saja saya tanpa banyak berpikir, minta sopir berhenti dan turun di tempat yang ada pangkalan ojeknya. Karena kalau naik mobil lagi pasti nggak keburu. Saya itu minta abang ojeknya cepat, yang saya pikir pokoknya cepat nyampe aja," kisah pria yang baru satu tahun menjabat sebagai camat Cempaka Putih.

Setibanya di Cempaka Putih, rupanya Jokowi sudah ada di dalam mobil dan hendak meninggalkan kantornya. Meski tak sempat berbincang, Asril mengaku masih sempat memberikan hormat pada Jokowi.

Ali Sadikin pun dulu rajin sidak. Dalam setiap proyek, Bang Ali selalu turun langsung meninjau pengerjaannya.

Di sebuah proyek, Bang Ali terkejut bukan main. Ternyata pembangunan proyek itu macet lantaran kontraktor terlambat memasok semen. Bang Ali pun segera mengecek permasalahannya. men langsung dari pabriknya, bukan dari grosir atau tangan ketiga. Tentu saja hal ini memperlambat pekerjaan.

Maka Bang Ali minta agar direktur perusahaan pemasok semen itu dipanggil. Pada panggilan pertama dan kedua, direktur itu mangkir. Baru pada panggilan ketiga sang direktur hadir. Orangnya ternyata masih muda.

Bang Ali bertanya kenapa sampai terlambat. Apakah dia tidak sadar bahwa proyek ini untuk kepentingan warga ibukota? Ternyata jawabannya berbelit-belit dan tidak jelas. Bang Ali pun naik pitam. Plak! Dia menampar direktur itu. Tidak cukup sekali, Bang Ali menamparnya tiga kali. Plak! Plak! Plak!

"Saya marah sekali, saya tempeleng dia tiga kali. Barulah dia berjanji akan segera memenuhi kontraknya. Benar juga, pada hari berikutnya kiriman semen sudah masuk ke proyek," kata Bang Ali.
(merdeka.com).