Selasa, 15 Januari 2013

Sepeda Motor Pak Guru Melaju Pakai Gas Elpiji





(Jelajahunik) Sepeda Motor matic bernomor polisi Z 6172 AW, tampil aneh di deretan sepeda motor yang diparkir di pelataran SMAN 1 Sumedang, Jawa Barat.
Di antara sepeda motor milik para guru dan siswa, terselip sepeda motor milik guru Fisika, Cece Wawan (45), yang bagian belakangnya mengangkut tabung gas elpiji tiga kilogram berwarna melon.
Tak heran, 'kuda besi' guru yang tinggal di Blok 3 Perumahan Jatihurip, Desa Jatihurip, Kecamatan Sumedang Utara, kerap menjadi tontonan.
"Motor saya memang harus membawa tabung gas elpiji, karena menjadi bahan bakar motor menggantikan premium," kata Cece di SMAN 1, saat berbincang dengan Tribun Jabar(Tribunnews.com Network), Jumat (11/1/2013).
Guru fisika yang sudah mengajar sejak 1992, merakit sendiri konverter, supaya bahan bakar sepeda motor kesayangannya bisa dikonversi ke gas.
"Idenya sudah setahun ingin menggunakan bahan bakar gas, tapi mulai serius mengutak-atik sekitar dua bulan lalu," ujar bapak tiga anak.
Cece tidak sendirian melakukan uji coba dan membuat konverter. 
"Saya ditemani pemilik bengkel bernama Didin membuat konverter. Mempelajari pembuatan diambil dari internet," ungkapnya.
Selama dua bulan, mereka mencoba membuat konverter, mulai memodifikasi karburator bekas, sampai membuat konverter dari pipa besi.
"Pembuatan pertama, motor bisa hidup ketika digas full, tapi tidak langsam. Kemudian diperbaiki lagi, dan gas bisa langsam, tapi saat digas motor malah mati," tuturnya.
Percobaan terus dilakukan. Akhirnya, di pengujung Desember 2012, sepeda motor berbahan bakar gas bisa berjalan.
"Sudah dua minggu motor ini bisa dipakai, dan jarak tempuh sudah 70 km, tapi tabung gas 3 kg belum sempat diganti. Saat percobaan sebelumnya, menghabiskan satu tabung gas," urainya.
Biaya yang dihabiskan, sekitar Rp 200 ribu. Cece mengaku, dengan memakai bahan bakar gas, terasa lebih irit.
"Kalau pakai premium, selama empat hari dipakai bolak-balik dari rumah ke sekolah, menghabiskan Rp 10 ribu untuk beli premium. Jarak rumah ke sekolah sekitar 4 km, atau bolak-balik 8 km," urainya.
Menurut Cece, konverter buatannya masih butuh pembenahan lagi, supaya modifikasi konversi ke bahan bakar gas bisa sempurna.
"Suara motornya masih kasar, dan butuh saringan udara," jelasnya.
Cece memaparkan, tarikan sepeda motor dengan bahan bakar gas lebih ringan, dan akselerasinya sangat responsif.
"Kelemahannya, suara masih kasar, dan saya belum membuat tempat khusus menyimpan tabung gas. Tabung masih disimpan di belakang dengan diikat memakai karet dan dikunci gembok, supaya tak ada yang mencuri tabungnya," bebernya sambil terkekeh.
Cece sebelumnya sempat menyimpan tabung gas di tengah sepeda motor dengan pijakan.
"Tapi, ternyata saya disangka tukang tabung gas, dan sering ada yang mau membelinya. Saya juga punya warung dan sering berbelanja, jadi kesulitan menyimpan belanjaan, sehingga dipilih disimpan di belakang," paparnya.
Ternyata, inovasinya ini dilirik orang lain.
"Sudah ada yang memesan membuat konverter," ucapnyanya.