Minggu, 30 Juni 2013

Zat Warna Biru Pada Makanan Paling Berbahaya Bagi Kesehatan


Ada banyak makanan olahan yang pasti bisa menarik perhatian Anda karena warnanya yang menarik. Sayangnya, sebuah studi yang diterbitkan di Journal Food and Chemical Toxicology menemukan kalau pewarna biru pada produk yang dapat dimakan ternyata berpengaruh besar bagi tubuh kita.

Tim peneliti dari University of Technology Slovakia, mempelajari dua pewarna biru buatan, yaitu Paten Bluedan Brilliant blue. 

Zat pewarna yang diizinkan penggunaanya dalam makanan dikenal sebagai permitted color atau certified color. Untuk penggunaan zat warna tersebut harus menjalani tes dan prosedur penggunaan yang disebut proses sertifikasi. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut.

Menurut Joint (FAO/WHO) Expert Committee on Food Additives (JECFA), zat pewarna sintetis dapat digolongkan dalam beberapa kelas berdasarkan rumus kimianya, yaitu azo, triarilmetana, quinolin, xanten dan indigoid. Paten Blue dan Brilliant blue masuk dalam kategori triarilmetana.

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan, di Indonesia bahan pewarna sintetis yang diijinkan adalah brilliant blue. Termasuk di Amerika Serikat, brilliant blue dikenal sebagai zat pewarna yang paling sering digunakan.

"Brilliant Blue adalah salah satu pewarna biru yang paling umum digunakan," kata penulis studi Jarmila Hojerova, seorang profesor di Universitas Slovakia of Technology dan presiden Masyarakat Slovakia kosmetologi.

Para ahli berpikir begitu, pewarna biru benar-benar dapat memasuki aliran darah melalui kulit atau melalui saluran pencernaan, seperti dilansir Foxnews, Jumat (18/1/2013).

Peneliti menempatkan brilliant blue dan paten blue pada lidah selama 20 menit, dengan cara menjilati permen lolipop. Keesokan harinya, tim peneliti menemukan kalau kedua zat pewarna tersebut ternyata cepat menyerap ke aliran darah. Terutama paten blue yang berpengaruh sangat cepat.

"Temuan ini mengganggu beberapa studi yang menunjukkan bahwa pewarna dapat menghambat respirasi sel," kata Hojerova.

"Jika proses penciptaan energi dan respirasi tidak berlangsung dengan baik, akan ada banyak kegagalan," menurutnya. 

Kedua pewarna ini sebelumnya telah dikaitkan dengan ADHD, alergi, dan asma. Pada tahun 2003, ketika Brilliant Blue digunakan sebagai pewarna dalam tabung makan, pengawas makanan dan obat-obatan di Amerika (FDA) mengeluarkan nasehat kesehatan terhadap masyarakat karena efek samping zat pewarna ini menyebabkan penyakit seperti kulit kebiru-biruanan, penyakit urine, dan feses, serta hipotensi dan kematian.

Secara khusus, tim peneliti menemukan kalau pewarna biru lebih meresap ke dalam aliran darah ketika penghalang kulit terganggu, seperti setelah bercukur, atau ketika pewarna terkena selaput lendir lidah. 

Peneliti merekomendasikan kalau zat pewarna dilarang di permen dan produk kosmetik tertentu untuk mengurangi resiko penyakit pada konsumen.

Tentu saja, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang zat pewarna biru. Namun di Amerika, perusahaan produsen zat pewarna membantah bahaya zat tersebut dalam makanan.

Pilih kosmetik bersih, krim cukur, pembersih wajah, dan hal lain yang mengandung pewarna alami dalam lemari obat Anda. Cek hal tersebut terutama makanan yang memiliki warna biru karena zat ini lebih cepat masuk melalui kulit yang rusak. 

Di Amerika Serikat juga pernah dilaporkan kasus keracunan akibat penggunaan zat pewarna FD & C Orange No.1 dan FD & C Red No. 32 pada kembang gula dan popcorn dengan dosis yang terlalu tinggi. Akibat yang timbul adalah diare pada anak-anak dan efek keracunan kronik pada ternak